LANGIT SENJA
#FIRSTPART
( Kertas misterius )
( Aku vanya, seorang gadis yang tidak tahu apa apa tentang kehidupan. Aku sendiri, aku bahkan tidak punya teman satu pun. Aku sedih? Ya tentu, tapi aku rasa ini sudah terlalu biasa untuk remaja yang masih duduk di kelas 12 seperti ku ).
Dikelas...
"Haii" ( suara riang menyapa )
"(Mengangkat kepala dari atas meja )"
"Hai! Aku jea!"
"Hai" ( dengan suara ragu )
"Aku anak baru di sini"
"Oh iya aku tau"
"Kamu gak gabung sama anak yang lain di sana?"
"( Menggelengkan kepala )"
"Boleh aku jadi temen kamu?"
"Tentu" ( tersenyum )
"Oh iya kamu belum ngasi tau nama kamu siapa?"
"Oh iya, aku vanya"
"Kayanya bakal seru banget deh jadi temen kamu hahaha"
"Hahaha"
( Kalian tau bagaimana perasaanku saat jea menyapa dan meminta aku jadi temannya? Ya, sangat senang sekali, seperti lilin yang hampir redup karna angin, dan angin mengalah untuk membiarkannya tetap menyala )
Di kantin...
"Vanya mau minum apa? Biar aku pesenin"
"Samain aja kaya kamu"
"Oke" ( beranjak untuk memesan sebuah minuman )
"Ini" ( memberikan minuman kepada vanya )
"Makasih"
"Sama sama, eh ngomong-ngomong gimana sekolah ini?"
"Maksudnya?"
"Ehm.. engga, kamu nyaman kan sekolah di sini?"
"Entahlah, aku sekolah bukan untuk mencari kesenangan lagipula tidak ada yang menyenangkan saat sekolah, aku hanya fokus belajar untuk masa depanku nanti"
"Tidak ada yang menyenangkan? Maksudnya gimana?"
"Orang orang bodoh di sekitarku selalu membuat ku risih dengan kelakuannya"
"Siapa?"
"Ah udahlah lupain, yang terpenting disini aku sedang berusaha untuk masa depanku nanti"
"Kamu tau? Di setiap usahamu akan selalu ada aku"
"Hmm.. makasih jea" ( tersenyum )
"Iyaaa" ( tersenyum )
( Lagi lagi jea yang selalu membuatku percaya bahwa akan ada pelangi setelah derasnya hujan )
Sepulang sekolah ketika vanya dalam perjalanan menuju rumah, vanya melihat sekelompok anak laki laki yang entah sedang melakukan apa di sebuah hutan dengan mobil jip nya itu...
"Sedang apa mereka" ( penasaran )
Vanya sedikit mengintip di balik mobil jip itu, dan betapa kagetnya ia ketika melihat seorang anak perempuan seumuran nya sedang di ikat kedua tangannya oleh tali. Tanpa pikir panjang vanya langsung menghampiri mereka...
"Apa yang kalian lakuin?!! Lepasin dia!"
"Siapa lo?! Berani beraninya datang kesini!!" ( Ucap salah satu anak laki laki tersebut dengan wajah kesal dan marah )
"Ga penting gue siapa! Lepasin dia atau.."
"Atau apa hah?! Lo mau lapor polisi?! Silakan ga akan bisa!"
"Brian, please lepasin gue" ( lirih wanita tersebut dengan air mata di pipinya )
"Gak! Gak akan! Yang gak bisa gue milikin, orang lain juga ga bisa!" ( Ucap laki laki tersebut )
Tiut..tiut..tiut.. ( suara mobil polisi ) datang..
"Cabut!!" ( Perintah laki laki tersebut kepada ke dua temannya yang segera menaiki mobil jip dan pergi )
"( Melepaskan tali yang ada di wanita tersebut )"
"Makasih" ( sembari menangis memeluk vanya )
"Iya sama sama, kamu gapapa?"
"( Menggelengkan kepala )"
"Ayo aku antar pulang"
( Saat itu aku pergi mengantar wanita tersebut pulang kerumahnya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Yang aku tau nama "Brian" adalah orang yang melakukan perbuatan tersebut kepadanya )
Di ruang tv..
"Makasih sekali lagi, kamu hebat!" ( Ucap wanita tersebut )
"Ah tidak, aku hanya menolong manusia sebagaimana yang seharusnya manusia lakukan"
"( Tersenyum ) oh iya, aku viona!"
"Aku vanya"
"Vanya?"
"Iyaa, boleh aku nanya?"
"Tentu"
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka nyiksa kamu?"
"Tidak, mereka tidak menyiksaku"
"Kamu ga liat yang barusan mereka lakuin ke kamu?!, Siapa sebenarnya mereka?"
"Mereka temen temenku dulu"
"Hah? Gimana? Temen?!"
"( Mengangguk )"
"Lalu kenapa mereka ngelakuin ini ke kamu?"
"Udahlah lupain aja itu hanya masa lalu"
"Hmm.. ya udah, maaf kalo aku nanya privasi kamu"
"Gapapa nya, santai ajaa"
"Oh iya, udah sore aku harus pulang"
"Iya maaf ya gara gara aku kamu harus pulang sore"
"Engga bukan karna kamu ko"
"Sekali lagi makasih vanya"
"Iyaa"
( Aku berlari menuju sebuah tempat dimana aku bisa tenang dan mencurahkan semua isi hatiku. Tempat dimana tidak ada orang yang bisa melihatku dengan perasaan yang aku alami saat ini ).
Tepat pukul 17.45 vanya masih berlari ke tempat yang ditujunya. Ya, sebuah danau indah dengan rumah pohon di tepinya, yang benar benar tempat tenang untuk vanya membagi kisah sedihnya...
Di danau...
"Hosh..hosh.." ( vanya menghela nafas )
"Senjaaaaaaaaa!!" ( Teriak )
Vanya berjalan dan menaiki rumah pohon dan duduk di terasnya sembari menatap senja yang hampir redup ditelan cahaya bulan.
"Senja kamu tau? Hari ini aku seneng banget! Aku punya teman! Namanya jea, dia teman pertamaku, dia baik banget! Aku ga bakal ngerasa kesepian lagi, dan hari ini juga aku dapet pelajaran tentang betapa berartinya sebuah rasa manusiawi terhadap orang lain, aku berharap besok aku akan melihat jea dan tertawa lagi dengannya!" ( Sembari senyum bahagia )
"Senja.. maaf aku telat ke sini, ada hal yang harus aku lakukan dulu tadi, sekarang aku pulang dulu aku takut mama marah karena seharian ini aku belum pulang, dahh..." ( Melambai kepada langit dan mulai turun dari rumah pohon )
( Hari itu aku telat menemui teman yang selama ini selalu ada untukku, tapi tak apa masih banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama )
Di perjalanan menuju rumah vanya menemukan sebuah kertas menempel pada dinding yang membuat nya sedikit heran dan takut..
"Apa ini?" ( Melepas kertas dari dinding )
Vanya termenung sejenak karna dia heran kenapa kertas itu nampak aneh..
"Ah sudahlah, ini cuma kertas biasa" ( melipat kertas dan memasukannya ke dalam tas )
*"VANYA BODOH SIALAN!!"*
Itu kira kira isi dari kertas tersebut..
Sesampainya dirumah vanya mengendap ngendap menuju kamar karna takut ketahuan ibunya karna pulang terlalu lama..
"Vanya!!" ( Ucap mama vanya marah )
"Iya ma" ( membalikkan badan )
"Darimana saja kamu?! Jam segini baru pulang?! Dasar anak bodoh!"
"Iya ma maaf, vanya tadi abis kerja kelompok dulu di rumah temen, maaf vanya gak bilang dulu sama mama"
"Saya gak masalah mau kamu pulang atau engga terserah, tapi kamu tau?! Banyak pekerjaan rumah yang belum kamu selesaikan!"
"Iya ma, abis vanya bersih bersih vanya beresin rumah ma"
"Ga usah! Bi mimah udah ngerjain semuanya!"
"Iya ma, vanya masuk kamar dulu"
"Ets... Sebagai gantinya kamu harus kerjain semua tugas sila!"
"Tapi ma.."
"( Melotot )"
"Iya ma, kalo gitu vanya masuk kamar dulu"
Di kamar...
"( Mengambil sebuah foto lalu duduk di atas kasur )"
"Papa.. vanya kangen papa, papa cepetan pulang ya, vanya gak punya temen di sini" ( menangis )
Vanya kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam tas nya lalu menelpon seseorang...
"Assalamu'alaikum pa"
"Waalaikumussalam sayang, vanya gimana kabarnya? Baik baik aja kan nak?" ( Suara dari dalam telepon )
"Iya pa, vanya baik baik aja, vanya kangen papa"
"Mm.. sayang, papa juga kangen banget sama vanya, nanti papa pulang ya, vanya sabar dulu di sini papa lagi kerja buat vanya, buat mama, buat sila.."
"Iya pa, vanya ngerti, papa baik baik disana ya"
"Iya sayang, oh iya gimana mama sama sila? Vanya nyaman?"
"Hmh.. nyaman ko pa, mama sama sila baik banget sama vanya"
"Bagus deh, sayang papa lanjut kerja dulu ya, nanti kita ngobrol lagi"
"Iya pa"
"Dah sayang, assalamu'alaikum love you" ( mematikan telepon )
"Dah pa, waalaikumussalam too"
____
"( Membuka pintu tanpa mengetuk )"
"Sila" ( ucap vanya )
"Nih kerjain! Harus selesai sekarang!" ( Melempar buku ke atas kasur )
"Kalo besok aja gimana sil? Aku cape aku mau istirahat dulu"
"Gak bisa!! Besok tugasnya dikumpulin! Gue mau malam ini juga tugas gue selesai!" ( Marah )
"Iya sil, aku kerjain sekarang"
"Bagus!" ( Pergi dari kamar vanya )
Pada malam itu tepat pada pukul 23:15 vanya selesai mengerjakan semua tugas sila. Vanya termenung di meja belajar, dia memikirkan sesuatu tentang apa yang terjadi hari ini...
"Akhirnya selesai juga!" ( Menutup buku )
"Apa gunanya hidup jika terus mengeluh? Menurutku mama dan sila sudah menjadi hal biasa untukku, harusnya aku gak perlu pusing mikirin mereka" ( sembari memainkan pulpen yang ada di tangannya )
"(Vanya membuka tas miliknya dan mengambil kertas yang sebelumnya dia temukan tadi )"
"Vanya bodoh sialan? Maksudnya apa?"
(Vanya penasaran dengan tulisan yang ditulis menggunakan tinta merah yang ada di kertas tersebut )
"Vanya? Aku? Tidak! Selama ini aku sama sekali tidak punya teman dan tidak mungkin ada yang membenci ku selain mama dan sila. Jadi, gak mungkin vanya yang dimaksud adalah aku, lagipula aku sama sekali gak pernah berurusan dengan orang"
( Kalian tau? Betapa sakit hatinya aku ketika mama bilang aku anak bodoh? Haha, tapi itu sudah menjadi hal biasa untukku )
Vanya kemudian terbangun dari meja belajar nya dan menuju kasur untuk segera tidur...
___
#Brian
"Gimana? Beres?" ( Tanya brian pada dua temannya )
"Tenang aja beres bro" ( jawab rezky )
"Lagian kenapa lu ngincer anak itu yan?" ( Tanya fiko )
"Gue gak akan biarin siapapun ngehalangin gue untuk tetep sama viona!" ( Jawab brian tegas )
"Tapi kan anak itu gak ada hubungannya sama viona" ( ucap fiko )
"Ah sudah!! Diam!" ( Brian kesal lalu pergi meninggalkan mereka berdua )
"Yan! Lo mau kemana?! " ( Tanya rezky sedikit teriak )
"( Brian tidak menjawab pertanyaan dari rezky dia langsung pergi begitu saja dengan mobil Jeep nya itu )"
Di dalam mobil brian membuka ponsel nya berusaha menghubungi seseorang tetapi telfon darinya selalu ditolak oleh orang yang dituju brian..
"Sialan!!" ( Memukul stir mobil )
Brian semakin mempercepat laju mobilnya dan tiba tiba dia berfikir tentang orang yang membantu viona siang hari tadi, ya.. vanya..
"Vanya?! Gara gara dia!!" ( Marah dan kesal )
Ke esokan harinya disekolah, vanya sudah tidak sabar menunggu jea datang, dia terus saja melihat jam tangan lagi dan lagi untuk memastikan jea masuk sekolah. Jea akhirnya datang, yang ditunggu tunggu vanya datang dengan sebuah paper bag di tangannya..
"( Berjalan menuju bangku vanya )"
"Hai vanya!"
"Kok telat?! Aku fikir kamu gak bakal masuk sekolah"
"Emang kenapa kalo engga? Kangen ya" ( meledek )
"Ngga" ( malu )
"Nih aku bawain sesuatu yang spesial untuk teman yang spesial" ( memberikan paper bag )
"Wahh apa ini?"
"Bekal untuk kamu, aku yang masak sendiri loh"
"Masa?"
"Iyaaa"
"Ya udah, makasih ya jea"
"Iya sama sama"
( Hari kedua sekolah bersama teman rasanya sangat senang sekali, rasa sunyi kembali membaik dikala ada jea hadir di sisi kehidupan ku )
Ketika vanya dan jea berjalan menuju kantin tiba tiba vanya di tabrak bahunya oleh anak laki laki yang tinggi, dan vanya rasa wajahnya sudah tidak asing lagi baginya. Paper bag yang dibawa vanya terjatuh dan semua makanan yang ada di dalamnya tumpah.
"( Laki laki tersebut Melirik sinis ke arah vanya dan langsung pergi begitu saja)"
"Dasar anak bodoh!" ( Teriak vanya )
"Sudah vanya" ( jea menenangkan vanya )
"Maaf jea, makanannya jadi tumpah semua" ( membereskan makanan yang ada di lantai )
"Gapapa vanya, nanti aku buatkan lagi"
( Aku sangat kesal kepada laki laki tersebut. Se enaknya dia seperti itu, apalagi menjatuhkan makanan yang spesial dari teman ku. Tapi ku rasa dia sudah tidak asing lagi bagi ku, aku tidak ingat dia siapa, tapi aku yakin aku pernah bertemu orang itu )
Di dalam kelas vanya terus saja menggerutu tentang kejadian tadi..
"Kalo ketemu dia lagi! Awas aja! Berani beraninya dia numpahin makanan ini!" ( Kesal )
"Udh vanya, sabar" ( menenangkan )
"Kamu liat sendiri kan jea?! Tidak ada yang menyenangkan di dunia ini! Mereka bodoh! Mereka juga aneh! Mereka.."
"Vanya.. apa kamu tahu apa artinya hidup?" ( Memotong bicara vanya )
"Tidak! Tidak sama sekali! Bahkan aku tidak peduli dengan arti hidup!"
"Aku harap kamu berusaha untuk mencari apa artinya kehidupan" ( tersenyum )
"Untuk apa?!"
"( Hanya tersenyum )"
( Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan vanya, apa artinya hidup? Aku bahkan tidak peduli dengan itu! Sudah kubilang aku hanyalah anak bodoh yang tidak mengerti tentang kehidupan )
Saat baru saja keluar gerbang sekolah untuk pulang, tiba tiba ponsel vanya berbunyi tanda ada panggilan masuk..
Tut..Tut..Tut.. ( suara dering ponsel )
"( Mengambil ponsel dari sakunya )"
"Nomor tidak dikenal? Siapa ya?"
"Halo!" ( Mengangkat telepon )
"Halo vanya!" ( Suara dari dalam telepon )
"Ini siapa?" ( Heran )
"Aku viona"
"Oalah kirain siapa, ada apa viona?"
"Bisa sekarang kamu ke rumah ku?"
"Sekarang banget?"
"Iya kumohon! Cepet ya! Aku tunggu!" ( Menutup telfonnya )
"I..i..iya deh!! Yah di matiin"
Sesampainya dirumah viona..
"Viona..viona..!" ( Sembari mengetuk pintu )
" ( Membuka pintu )"
"Ada apa?"
"Udah cepet masuk!" ( Menarik tangan viona untuk masuk ke dalam )
Di ruang tv..
"Ada apa viona?" ( Tanya vanya )
"Gapapa, aku hanya kesepian di sini"
"Huftt.. aku pikir ada sesuatu serius"
"Ngga, maaf ya! Hahaha!"
"Iya iya"
"Eh kemarin gimana?"
"Gimana? Maksudnya?"
"Pas kamu pulang dari rumah aku gimana? Ada sesuatu engga? Mama kamu marah?"
"Gak ada.. kalo mama, dia marah si tapi yaudahlah aku udah terbiasa" ( tersenyum )
"Huftt.. syukur deh" ( lega )
"Emang kenapa?"
"Gak papa ko"
"Tapi.. aku nemuin kertas"
"Kertas?! Kertas apa?!" ( Panik )
"Hanya kertas biasa yang ditulis tinta merah"
Vanya kemudian mengambil kertas tersebut dari dalam tasnya dan menunjukkan kepada viona..
"Ini.." ( memberikan )
"( Mengambil kertas tersebut dan termenung sejenak seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu )"
"Viona!!"
"Iya!" ( Sedikit kaget )
"Ko malah bengong"
"Engga kok, udah ini cuma kertas biasa kamu gak perlu khawatir"
"Aku sama sekali gak khawatir! Karna aku tau vanya yang dimaksud bukan vanya diriku"
"( Tersenyum )"
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar